Tahun Kedua dan Dua Kota.

Ramadhan kali ini adalah yang kedua tanpa Ibu. Tahun kemarin cukup berat, karena masih ada bayang-bayang yang begitu kuat. Pergi ke sana-sini, ah.. biasanya bersama Ibu.
Ribet di dapur, ah.. biasanya bersama Ibu.
Berangkat tarawih, ah.. biasanya bersama Ibu.

Berasa sekali, yang tadinya bersama sekarang tidak.
Yang tadinya ada, jadi tidak ada.
Sedangkan, ini bukan yang pertama menjalani Ramadhan seutuhnya tidak di kota sendiri. Melainkan berbagi dengan kota rantauan. Biasanya Jogja-Banjarnegara, sekarang Banjarnegara-Depok.
Bukan melarikan dari bayang-bayang, justru ini mengejar pesan Ibu. Segera datang dan berlari jika ada saudara yang membutuhkan. Ramadhan ini menepati perkiraan lahirnya cucunya Ibu yang keempat. Makanya segera meluncur dan alhamdulillah datang di waktu yang tepat.

Dua kota semoga menjadi saksi bahwa.. Ramadhan tidak akan tersiakan. Sebab Ramadhan dalam hitungan jam lagi sudah usai. Semoga Allah telah memberi kita rahmat,
Mengampuni dosa-dosa,
Menjauhkan kita dari api neraka.

Rumah, semoga baik-baik.
Bapak juga.
Mamak juga.
Kakak juga.
Adik-adik juga.
Simbah juga. (dyif)

Kota Depok, 29 Ramadhan 1438 H

Sesimpel itu Memahami Takdir.

Kalau saja,
Kalau saja..

Ah, jangan terlalu banyak berandai-andai. Sama saja dengan berkhayal tentang sesuatu yang tidak ditetapkan terjadi pada diri kita.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bahkan sudah berpesan tegas, bukan?

Tentang; jangan berandai-andai.

Apa yang ditetapkan menimpa kita, maka akan menimpa kita.
Apa yang tidak ditetapkan menimpa kita, maka tidak akan menimpa kita.

Begitu juga dengan,
Rezeki,
Cobaan,
Seseorang.

Sesimpel itu memahami takdir.
Kita jangan mempersulit diri sendiri dengan banyak pertanyaan dan andaian. (dyif)

#ramadhansudahlewatseparuh#muhasabah#semangatperbaikan

Teman Menunggu dan Teman Perjalanan (Part 3).

Teman menunggu dan teman perjalanan (Part 3)

Teman yang satu ini sudah seperti sahabat. Sangat dekat. Tanpa aku bercerita, dia selalu ada dan mendengarkan. Tanpa aku meminta, dia juga selalu memberi.
Kalau ada gejolak,
Dia ada untuk menenangkan
Kalau ada kebingungan,
Dia ada untuk menunjukkan.
Kalau kebimbangan,
Dia ada untuk meyakinkan.

Kemana pun,
Dekat atau jauh.
Sedang apa pun,
Luang atau sibuk.
Al Qur’an selalu jadi teman sekaligus sahabat.
Dibandingkan dengan buku mana pun, dia harus menjadi yang pertama dan utama.
Kita juga harus berwaktu dengannya, seperti halnya Hatta atau Hamka yang berwaktu dengan buku dan pena.

Ada pesan sederhana juga,
Jangan jauh-jauh,
Harus selalu dekat-dekat.
Biar tidak mudah jatuh,
Biar tidak tersesat. (dyif)

#Alquran#dusturuna#semangatkebaikan#semangatperbaikan

Teman Menunggu dan Meman Perjalanan (Part 2).

Teman menunggu dan teman perjalanan (Part 2).

Yang satu semacam buku catatan harian. Satunya lagi semacam diary gambar.
Mau kedua kaki melangkah kemana, ke tempat saudara, kampus, tempat ngaji, tempat kerja, percetakan, makan, mencari sore, atau sekedar jalan-jalan, keduanya harus ada di tas.

Jadi, bisa sewaktu-waktu menulis atau menggambar.
Sebabnya, ide, inspirasi, atau pencerahan itu bisa datang kapan saja.
Bisa ketemu di jalan,
Bisa juga datang duluan.
Makanya, sedia payung sebelum hujan.
Biar tidak kebasahan.
Kita harus bersiap dan menyiapkan,
Sebelum kita kehilangan.

Kehilangan apa coba?
Ya itu tadi; ide, inspirasi, pencerahan, atau ilmu baru.

Keduanya adalah pemberian.
Buku catatan dari kakak di Jogja, buku agenda bekas. Tapi luar biasa… tetap saja jadi pelarian untuk menulis apa saja.
Buku sketsa dari sahabat di Jogja, bekas juga. Sebelum diterima sudah ada coretan-coretan aneh dan tempelan banyak daun.

Terima kasih sudah menjadi teman menunggu, juga teman perjalanan.
Jadi, siapa teman menunggu dan teman perjalananmu? 😊 (dyif)

#writing#drawing#waiting#journey#semangatkebaikan
#semangatperbaikan

Teman Menunggu dan Teman Perjalanan (Part 1).

Teman menunggu dan teman perjalanan (PART 1)

” … Ibu benar. Sederhana adalah hal tersulit yang bisa hadir pada sebuah rasa. Entah cinta. Entah benci. Entah rindu.”
~Kica, kata Ibu.

Inilah teman menunggu,
Sekaligus teman perjalanan.

Di toko,
Di rumah,
Di kereta,
Di stasiun,
Di masjid,
Di pinggir jalan.

Buku selalu menjadi teman. Tapi, ada juga yang hidupnya berwaktu dengan buku. Sebut saja Hatta. Begitu yang baru saja dikatakan oleh salah satu sahabat. Atau semacam HAMKA. Yang hidupnya berwaktu dengan buku dan tinta. Ini sudah tingkat langit, sedangkan diri sendiri baru dan masih berteman dengan keduanya.

Buku selalu nyaman untuk dijadikan teman,
Dimana pun tempatnya. Karena tidak hanya penerimaan yang bisa dilakukan tapi juga merangkum banyak hal yang ada di kehidupan.
Kamu berbicara apa saja, buku akan menerimanya.
Kamu tidak meminta, tapi buku sudah memberikan.

Untuk kamu,
Selamat membaca! (dyif)

#ramadhanday10#semogabarakah#semangatperbaikan

Kesenangan yang Sama.

” Kalo hujan begini adem ya, Bund.”
” Iya..”
” Aku suka hujan begini, Bund. Semuanya jadi seger-seger.”
” Alhamdulillah..”
Kemudian sama-sama diam.

Itu percakapan singkat beberapa tahun silam. Sering ada percakapan yang serupa. Aku berkata apa, Ibu mengiyakan. Aku bercerita apa, Ibu mensyukurinya.
Sudah jauh masa lalu itu, tapi baru saja menyadari. Ternyata, aku dan Ibu mempunyai kesenangan yang sama. Ibu melihat apa yang aku lihat. Ibu merasakan apa yang aku rasakan. Tapi, aku tidak selalu seperti Ibu. Bahkan sangat jarang.

Bedanya lagi, Ibu tidak pernah mengeluh tentang hujan. Aku masih kadang mengeluh, padahal mengakunya suka hujan.
Ibu sudah berkali-kali melihat hamparan bumi dan payung kabut dari puncak gunung-gunung. Aku juga sama, tapi dari puncak bukit.

Kelak, aku ingin melihat hal-hal indah yang pernah Ibu lihat.
Seperti ketika Ibu melihat hujan.
Diam-diam menikmati.
Dalam-dalam mensyukuri. (dyif)

#rintikhujan#hujansore#raining#ramadhanday6

Buku Harian Kita.

Suatu ketika,
Menjelang kehidupan kedua dan selamanya, ada peristiwa yang mendebarkan terjadi. Lebih mendebarkan dari sekedar menanti sebuah jawaban. Lebih menggelisahkan dari sekedar menunggu sebuah kedatangan.

Adalah buku harian kita.
Buku yang berisi segala catatan amalan,
Kecil atau besar,
Yang sembunyi atau yang nampak,
Baik dan buruk.

Jika berujung bahagia maka tangan kanan kita akan menerima.
Jika berujung kedukaan maka tangan kiri kitalah yang menerimanya.

Kita ingin yang mana?
Ini tentang kehidupan kedua.
Kehidupan yang selamanya.

Tentu kebahagiaan adalah harapan dan do’a.
Kita harus bersiap.
Banyak-banyak mengisi buku harian kebaikan;
Semoga bertemu dengan kebahagiaan. (dyif)

#tadabbur
#mengingatidiri